Tahun delapan puluhanpun sudah kudengar istilah produktivitas. Teori, konsep pendapat2 tentang produktivitaspun sdh cukup banyak, tapi celakanya orang Indonesia masih dituduh produktivitas kerja nya rendah. Tapi ada yang lucu, mantan atasanku seorang direktur produksi di Perusahaan Tekstil terbesar di Negeri ini, paling getol mengirim SDMnya magang ke Jepang. Diam diam dia mengamati produktivitas sebelum berangkat, dan setelah kembali, pun waktu di Jepang diminta laporan dari supervisornya. Lucunya apa? Begini! Selama di Jepang Produktivitas naik sangat tajam, tidak kalah dengan orang Jepang disana. Tapi begitu kembali ke habitat lama, Produktivitas yg tinggi hanya bertahan beberapa bulan, sebelum kembali ketitik semula (“back to basic”).
Lantas apa yg salah? Persoalan produktivitas mestinya menjadi hal yg sangat serius di Negeri ini. Isu Produktivitas harus menjadi proyek terus menerus diterapkan sampai dia menjadi budaya. Dimulai dari rumah dan sekolah. Produktivitas harus ditunjukkan kepada anak2 mulai dari hal2 kecil. Setidaknya mulai dari disiplin menggunakan waktu, menggunakan dan merawat alat2, mendayagunakan barang2 bekas (limbah).
Dimulai dari penggunaan waktu, karena budaya memboros boroskan waktu akan menghancurkan produktivitas. Orang yg tdk menghargai waktu, tdk mungkin memberikan produktivitas yg tinggi. Anak harus dididik untuk membagi waktu untuk belajar, istrahat, bermain dsb secara kontinu. Anak juga harus dididik untuk menggunakan pensil, buku dan ATK lainnya se produktif mungkin. Bagaimana mengarit pensil agar awet, dgn tulisan bagus, bagaimana menggunakan buku bekas dsb. Merawat buku2 dan peralatan lainnya agar tetap prima digunakan. Anak juga harus dididik untuk memilah sampah kertas, plastik dan daun yg bisa diolah jadi pupuk kompos, kertas untuk daur ulang dst. Jadi sejak dini sudah diperkenalkan tentang produktivitas. Nah jika masalah Produktivitas dibudayakan sejak dini, maka dimasa yang akan datang anak2 akan menjadi orang yg produktivitasnya tinggi, tanpa mempersoalkan apakah bekerja di Instansi Pemerintah, Swasta, atau usaha sendiri.
Selanjutnya Pemerintah harus menciptakan suatu system, yang memungkin orang yang produktivitasnya tinggi mendapat apresiasi, ya ekonomi atau sosial.
Aku jadi teringat dgn ceramah seorang arif tentang pohon ara. Konon sang guru kehausan, melihat pohon ara dari kejauhan. Dia mendatangi pohon itu, ingin mendapatkan buahnya untuk melepas dahaga. Tapi dia kecewa, karena tdk ada buahnya. Lalu dia berkata, “ Terkutuklah pohon ini, tebanglah dan bakar, karena dia tdk menghasilkan buah!”
Betul, aku setuju dengan apa yang di tulis Mas Monang di atas. Produktivitas sebenarnya harus ditanamkan sejak kecil dimulai dari didikan keluarga. Lalu lingkungan juga mempengaruhi. Seperti orang Jepang yang sudah membiasakan hidupnya dengan tingkat produktivitas yang tinggi dari sejak dari lingkungan keluarga sampai ke lingkungan kerjanya.