Tadinya kuusulkan ke temanku, untuk menunda sementara acara kami. Mengingat di kiri kanan kami masih melakukan ibadah penguburan juga dgn sound system yg cukup keras. Tapi sang Pendeta menolak, dan acara pun terus dilanjutkan, acara ibadah penguburan. Penguburan seorang Bapak yg masih usia muda, yg selama ini menjadi tumpuan Istri dan sepasang anaknya. Seorang Bapak muda yg sangat produktif, yg selalu prima mengitari Jakarta dgn mobil tuanya untuk menawarkan jasanya sbg konsultan software. Kecelakaan di pagi hari kemarin, menghentikan semua impian dan harapannya.
Dalam acara itu ada seorang wanita muda berjilbab, yg mengikuti acara demi acara sedikit agak jauh. Hanya beberapa meter dari kami. Aku mulai sedikit syak wasangka, jangan.. jangan…. Tapi aku secepatnya mengusik pikiran negatif itu, karena kutau yang baru dikuburkan itu adalah jemaat yang baik, jujur dan tdk neko-neko. Meskipun dia ramah kepada siapa saja.
Usai acara penguburan sang Pendeta pun pergi, teman2ku pun pergi juga, setelah menyalami Ibu muda yang baru menyandang status janda. Pelayat yg lain pun, pergi satu satu, dan keramaian berubah menjadi sepi. Tapi aku belum pergi, karena masih panasaran dgn wanita berjilbab, yg belum beranjak dari tempatnya. Pikiran negatifku tiba2 muncul kembali. Ketika istriku, menggaet tanganku mengajak pulang, aku menolak, krn masih penasaran dgn wanita muda itu. Dia mengikuti acara penguburan dari kejauhan tanpa berkomunikasi dgn siapapun. Betul2 aneh & asing.
Setelah pelayat pergi, dan yg tertinggal hanya beberapa orang saja keluarga inti, si wanita asing itu pun beranjak dari tempatnya. Mengambil kembang tabur yg masih tersisa, lalu menaburkannya. Aku betul-betul mulai jatuh ke pikiran negatifku. Jangan2 dia istri simpanan almarhum. Usai tabur bunga dia melangkah dan menyalam ibu sepasang anak yang sangat berduka. Entah apa yang mereka omongi, tapi yg kulihat si Janda baru menangis sesunggukan dgn bahu terguncang guncang. Dia memeluk wanita berjilbab itu, lalu memeluk pusara suaminya, menangis sejadi jadinya. Tanpa suara, karena suaranya memang sudah benar benar habis.
Kulihat wanita berjilbab itu, meninggalkan pusara yg masih basah. Melagkah ke mobil terano hitam di dekatku parkir. Aku bertanya apa yang terjadi. Dengan tenang dia mengulurkan tangannya ke aku lalu ke istriku. “ Saya hanya memberi tahu, bahwa suaminya pemegang polis asuransi perusahaan kami. Aku adalah agen yg memprospeknya beberapa tahun yang lalu. Ahli warisnya (anak & istri), berhak mendapatkan sejumlah uang. Lebih dari cukup untuk mebiayai sekolah kedua anaknya.” Sahutnya.
Dia berlalu sambil memberikan kartu namanya. Terano hitamnya membawa tubuh mungilnya keluar dari pekuburan itu. (GP, 20/10/2008).