Teman & Kesembuhan
Matahari sore sudah hampir lenyap ditelan gumpalan awan hitam. Hujan lebat menyertai petir sambar menyambar disana-sini menyusul kemudian. Tiupan angin kencang memaksa daun mangga & buahnya harus melambai lambai., bahkan ada yg harus copot dari rantingnya. Namun begitu, Pak Mul dgn rombongan tetap pergi utuk bezuk teman lamanya Panut, di salah satu RS di Jakarta. Setiba di Rumah sakit, mereka harus antri hampir satu jam, menunggu pembezuk yg tlh masuk sebelumnya. Tak lama kemudian para pembezuk yg di dalam keluar.
Pak Mul dan rombongan bergegas mau masuk. Sekelompok pemuda yg ingin bezuk juga, tersenyum kecut melihat Pak Mul Cs menduluani mereka. Akhirnya Pak Mul menemui mereka dan mohon maaf. Merekapun maklum.
Setiba di ruangan, Panut agak kaget juga. Karena tak menyangka Pak Mul dan teman sekantor di perusahaan lama akan datang membezuknya. Meskipun sakitnya Panut cukup serius, tapi mereka masih bisa bercanda, Panut tersenyum dan tertawa juga meskipun terkadang meringis menahan rasa sakit. Setengah jam kemudian Pak Mul Cs keluar, dan Panut mengiringi mereka dgn senyumnya yg khas.
Saat keluar, ternyata sdh banyak orang lain di belakang sekelompok pemuda yg kepotong oleh Pak Mul Cs. Mungkin teman se erte, erwe, teman di Organisasi, teman se kerja di Perusahaan baru. nya. Dan entah dari mana lagi. Setiba di tempat parkir Pak Mul masih ketemu dgn rombongan teman sekantor, juga Ita bersama suaminya. Ita yg dulunya sempat akrab dgn Panut, tapi harus pisah baik2 karena beda keyakinan. Begitu banyak orang membezuk Panut di Rumah sakit itu, padahal di kantor Panut hanya staff biasa, krn usianya memang masih muda belia.
Dua minggu kemudian Panut masuk kantor. Hampir seluruh teman sekantor mendatanginya di meja kerjanya. Menyalaminya dan memberinya support. Panut pun berdiri, dgn santun mengucapkan terimakasih atas dukungan teman2nya. “ Aku sangat berterimakasih atas kunjungan teman-teman semua ke Rumah Sakit. Bagiku itu menjadi obat untuk mempercepat penyembuhanku. Aku pengen segera ke kantor untuk bertemu dgn kalian semua! Trimakasih!”
Tak lama, sang pimpinan masuk dan melihat keramaian. Dia pun mendatangi meja Panut. Dia salam Panut dan mengajak ke ruangan nya. Yang lain pun bubar dan melanjutkan kerja masing masing. (Gputri, 31/10/08)
Renungan:
Siapakah Panut itu? Saya kah? Anda kah? Semoga kita menjadi Panut lain!
Hanya sahabat sejati yang akan mengatakan kepadamu ketika mukamu kotor. (Pepatah Sisilia)