Seorang yang melakukan kesalahan dan tidak membetulkannya,
berarti telah melakukan satu kesalahan lagi. (Confucius).
Bayi mungil, ketika berusaha memasukkan putting susu ibunya ke mulutnya selalu salah, tapi dgn penuh kasih sayang, ketawa penuh bahagia, ibunya membetulkannya. Ketika dia mulai belajar makan/minum, sendok nasi bisa mampir di hidungnya atau diluar mulutnya. Nasi dan minum pun tertumpah entah dimana. Tapi kembali ibunya, ayahnya, kakaknya membetulkannya dgn kasih sayang. Demikian juga waktu dia memakai sandal, sepatu, mengancing bajunya. Kiri kanan bisa ketukar, kancing bawah bisa diatas dst. Tapi setiap ada kesalahan, selalu dilakukan perbaikan. Segera dan seketika, jika orang yang mencintainya melihatnya. Akhirnya anak kecil itu bertumbuh semakin dewasa, itulah aku dan anda. Juga Presiden kita, siapapun dia, tentulah tdk lepas dari kesalahan demikian dimasa kecilnya.
Setelah kita dewasa sebetulnya tdk lepas juga dari kesalahan. Maka orang arif selalu bilang, berbuat salah itu lumrah! Karena kita adalah manusia biasa. Ungkapan arif itu sering kita dengar. Tapi ironisnya orang dewasa semakin jarang, sulit dgn berbesar hati mengakui kesalahannya. Bahkan ada yang tersinggung, marah jika orang lain memberitahu kesalahnnya. Apalagi kesalahan itu diberitahu didepan umum.
Seorang pimpinan boleh dikatakan salah, jika terlalu menuntut produktivitas bawahan, tapi fasilitas & sarana minim, pembinaaan & pelatihan kurang, funishment & reward tdk jalan, Visi, misi dan target tdk jelas. Apalagi sampai ngomong, “ Pokoknya, harus selesai! Saya tunggu nanti di meja saya laporannya. Titik” Jika bawahan gagal, adakah pemimpin yg berani mengakui kesalahannya?
Operator produksi, pelaksana kantor juga bisa salah, meskipun SOP & juklak sudah ada. Tapi akan lebih celaka lagi, jika sudah tahu salah, tapi mendiamkannya dgn asumsi toh itu sangat kecil & tdk ada apa2nya. Toh hanya satu, tdk apa-apalah. Pernah anda ingat cerita kotak sabun kosong? Krn keteledoran operator, sebuah kotak sabun dalam keadaan kosong, sampai ke tangan konsumen, dan mengakibatkan tuntutan hukum yang sangat berat & merugikan?
Orang tua juga bisa dikatakan salah, jika menjadikan anak tetangga menjadi tolok ukur kesuksesan anak2nya, tanpa mengenal talenta/potensi si anak. Atau menetapkan standard/ target yang telalu tinggi atau telalu rendah kepada anak2nya. Ketika anaknya gagal, langsung dimaki-maki dng menyebut “ Dasar anak goblok!” Kadang lupa, jadi anak goblok, itu produksi siapa ya?
Dalam menjalani hidup ini, adalah benar jika kita tdk luput dari kesalahan. Persoalannya adalah bagaimana kita menyadari adanya kesalahan dan segera memperbaikinya. Kesalahan kepada diri sendiri, kepada kekasih, kepada pasangan hidup, orang tua, tetanggga, atasan , teman sejawat atau bawahan. Sebab jika kita melakukan kesalahan dan tidak memperbikinya, berarti kita melakukan kesalahan yang baru lagi.
Cbn, 05 Nop 2008